Jumat, Februari 13, 2009

pasar tradisional surabaya beresiko maut

1 komentar

Pasar Tradisional Berisiko Maut SURABAYA - Kendati sudah banyak pasar modern dibangun di metropolis, masih banyak warga yang memilih pasar tradisional. Bahkan, pasar dengan risiko kehilangan nyawa pun masih diminati.




Seperti yang terjadi di Pasar Dupak Margesari. Pasar tradisional yang terletak tepat di belakang kompleks Pasar Turi itu berdiri di atas rel kereta. Biasanya, kereta yang lewat berasal dari Stasiun Semut dan Stasiun Sidotopo menuju Stasiun Pasar Turi.

Kereta-kereta tersebut biasanya baru saja mendapat perawatan rutin. Paling tidak, panjang jalur kereta yang dipakai mencapai 500 meter. Dalam sehari, kereta melintas sebanyak empat kali.

”Tapi, itu kalau tidak ada kereta yang anjlok. Kalau ada yang anjlok, nggak sampai segitu (jumlah kereta yang lewat, Red),” kata Muhim, pedagang ikan basah.

Meski begitu, baik para pedagang maupun pembeli sudah terbiasa dengan kereta yang lewat. Sebab, setiap kereta akan melintas, sirene pintu perlintasan akan segera berbunyi. Maklum, tak jauh dari pasar tersebut, sebuah pintu perlintasan ditempatkan.

”Biasanya banyak yang teriak-teriak tiap kali kereta mau lewat. Kalau sudah berbunyi, semua orang lari minggir,” kata Musarofah, pedagang sayur-mayur. Kalau sudah begitu, tak hanya pembeli yang semburat minggir, para pedagang yang berjualan tepat di pinggir rel pun langsung menenteng tenda bongkar pasangnya.

Pasar tersebut biasanya buka pukul 05.00-09.00. Sama seperti kebanyakan pasar tradisional, pasar itu menjual sayur-mayur dan lauk-pauk.

Meski melewati pasar, kereta-kereta yang melintas tak pernah mengurangi kecepatannya. ”Semuanya kalau lewat ya banter-banter. Sama saja,” imbuh wanita yang sudah berjualan di pasar tersebut selama sepuluh tahun itu.

Comments

1 comments to "pasar tradisional surabaya beresiko maut"

Steve Ballmer mengatakan...
13 Februari 2009 22:00

Good blogging

Poskan Komentar

 

Copyright © 2008 - 2012 All Rights Reserved INDONESIAN TRAIN NEWS AND COMUNITY by Nendra Prima Setiawan This blog owned PRIMA MANDIRI CORPORATION contact us